BALITAR.ID, Blitar – Berbagai olahan coklat mewarnai kemeriahan di Blitar Cocoa Festival 2019. Dengan mengusung tema “Peningkatan Peran Petani, Pemuda dan Perempuan dalam Mendorong Pertumbuhan Industri Hilir Kakao,” kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar pada Sabtu-Minggu (13-14/7/2019).

Even ini dapat terselenggara berkat kerjasama Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPI) Jawa Timur dengan CSR dari Uni Eropa melalui proyek Sustainable Development Cocoa Programe (SDCP) dengan menggandeng pemuda, petani dan kader perempuan Desa Kemloko dan Pemkab Blitar.

Blitar Cocoa Festival 2019 diikuti peserta dari lima Kabupaten masing-masing Pacitan, Bodowoso, Malang, Trenggalek dan Blitar sebagai tuan rumah.

“Program ini sebenarnya terselenggara sejak Maret 2016 yang lalu dan nanti berakhir di 2020. Program yang di berikan oleh Uni Eropa bersama GPI ini selain menggelar even pameran seperti ini, kita juga ada program pemberdayaan diantaranya, program pembibitan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan sampai dengan pasca panen, kemudian juga ada pendampingan dari satgas dan fasilitator dan pengembangan untuk cacao di masyarakat itu sendiri,” ungkap Frely Handoko manager kegiatan Blitar Cocoa Festival 2019 saat ditemui Blitar TIMES.

Selain menghadirkan pameran berbagai olahan coklat, event ini juga diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik diantaranya ada cooking class dan lomba memasak berbagai olahan berbahan dasar coklat, lomba mewarnai, kontes kambing, senam pagi, jalan sehat dan juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian seperti tari Reog Bulkiyo khas desa Kemloko dan juga kesenian angklung dari D’Link Percussion.
Prely menambahkan, Cacao Festival ini merupakan even tahunan yang telah diagendakan dalam program SDCP dan diselenggarakan bergilir di lima kabupaten yaitu Pacitan, Bodowoso, Malang, Trenggalek dan Blitar. Selain itu, kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah gairah para petani dan industri hilir kakao di lima kabupaten penghasil kakao tersebut.

“Program SDCP ini dimaksudkan untuk menggugah semangat para petani kakao yang saat itu mengalami penurunan yang disebabkan oleh harga pasar dan juga cara budidaya masyarakat yang tidak sesuai standart permintaan pasar,” sambungnya.

Dengan adanya pendampingan program ini diharapkan produktivitas petani dan industri hilir kakao bersemangat kembali untuk membangun kembali usahanya. Pasalnya, sebelum adanya pendampingan banyak lahan kakao milik warga tidak dirawat dan bahkan juga ditinggalkan pemiliknya.

“Dengan kami adakan pendampingan, dan rekomendasi bibit kakao unggulan yaitu MCC 02 dan Sulawesi 01, kami optimis bahwa satu hektar lahan kakao milik warga akan bisa panen 1 hingga 2 ton pertahunnya. Selain itu, selama dua tahun kedepan juga akan kita damping suapaya usaha hilir kakao mereka bisa tumbuh” tutup Prely.