BALITAR.ID, Blitar – Terlahir dalam keadaan cacat atau difabel tentu bukan harapan semua orang yang lahir di dunia. Akan tetapi, keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.

Seperti beberapa penyandang disabilitas intelektual atau tuna grahita terlatih rupanya mampu menghasilkan karya batik yang bernilai seni tinggi.

Mereka adalah 27 penyandang disabilitas tuna grahita dari Kelompok Swadaya Masyarakat “Harapan Mulia” di Desa Resapombo, Kecamatan Doko Kabupaten Blitar.

Dengan segala keterbatasannya mereka bisa membuat karya batik bernilai seni tinggi dengan motif “ciprat” atau corak dominan titik-titik, semburan, maupun semburat seolah percikan air. Dengan Teknik pewarnaan yang dominan pada kain semakin mempercantik kesan abstrak pada batik ciprat tersebut.

Pendamping tuna grahita “KSM Harapan Mulia” Desa Resapombo, Kecamatan Doko Kabupaten Blitar Rita Sukirni Panca Riani (50) mengatakan, motif ini muncul sebagai hal yang paling mungkin dilakukan para penyandang disabilitas ini untuk berkarya.

“Yang mudah dipelajari anak-anak itu memang di kegiatan batik ciprat, dulu pernah bikin kerajinan dari kayu itu malah bahaya, kan alatnya tajam,” tutur Rita saat ditemui team Balitar.id, Rabu (24/4/2019).

Kegiatan membatik para penyandang disabiitas dibawah asuhan Rita ini sudah berjalan kurang lebih 2 tahun terakhir. Dengan kesabarannya membimbing seharinya mereka bisa menghasilkan belasan kain batik dengan berbagai motif cipratan yang beraneka ragam.

Proses pembuatan batik ciprat memang tidak begitu memakan waktu lama. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat batik ciprat sebenarnya sama dengan batik-batik pada umumnya. Namun pembuatan motifnya tidak menggunakan canting, justru sapu lidi dan kuas bisa menambah segi artistik pada motif batik ciprat.

“Prosesnya memang tidak begitu sulit, sama dengan batik-batik lainnya, tapi kita motifnya dominan abstrak, ada motif kayu, sawut, titik-titik,” katanya.

Menurutnya, mulai dari awal pembuatan mereka pewarnaan dasar, pembuatan motif dengan cipratan malam, pengeblokan hingga penguncian warna kita sama dengan batik-batik pada umumnya.

“Untuk produk, kami sering melayani pesanan dari kantor-kantor itu, kadang juga ada wisatawan yang memang sengaja belajar edukasi, yang banyak ya anak-anak sekolah itu,” sambungnya.

Uniknya, batik ciprat karya warga Resapombo ini bisa dipastikan hasilnya akan berbeda antara satu kain dengan yang lainnya. Sebab, diproduksi secara manual bukan cetakan. Bahkan jika ada pemesan hanya ada satu lembar pun juga dikerjakan.

Untuk satu lembar kain batik ukuran 2,30×1,30 meter dihargai Rp 150-200 ribu, tergantung kesulitan motif, dan bahan yang digunakan. “Kami juga bisa melayani motif yang diinginkan, nanti ada pendamping yang mengarahkan motif,” jelasnya.

Maka tak heran jika batik ciprat asal Resapombo ini mendapatkan pesanan dari tamu-tamu luar daerah yang berkunjung ke Blitar.

“Dari tempat-tempat wisata disekitar sini kita juga dapat banyak dukungan, karena wisatawan biasanya kan juga cari oleh-oleh, kita yang menyediakan,” tuturnya.

Selain menghasilkan karya batik yang mengagumkan, para penyandang disabilitas tersebut bisa mendapatkan posisi yang dimata masyarakat luas.

“Nantinya, kita akan terus berinovasi menghasilkan karya yang lebih bagus lagi. Kita disini bisa ikut berkaya dan memberdayakan para penyandang disabilitas disekitar dan khususnya untuk Kabupaten Blitar,” pungkasnya.