BALITAR.ID, Blitar – Film Kawentar (Kaweruh Njeroning Blitar), film fiksi dokumenter yang disutradarai oleh putera daerah asli Blitar Grantika Pujianto akan siap tayang di layar lebar awal Mei 2019 mendatang.

Dikatakan oleh sutradara Grantika Pujianto, bahwa film ini menceritakan seorang tokoh bernama Kinanti yang dilahirkan di Jakarta, namun keluarga ayahnya adalah asli orang Blitar. Ketika liburan, Kinanti ingin pergi ke Blitar untuk mencari tahu kedahsyatan letusan Gunung Kelud yang menewaskan kakeknya dulu.

“Proses pembuatannya selama 37 hari dan sekarang sudah hampir selesai. Risetnya yang lama, sekitar 3,5 tahun. Meskipun di bioskop CGV sudah tayang kami ingin menambahkan sedikit scene untuk menyampaikan pesan moral dari para pemuda Blitar. kata Grantika Pujianto (27), sutradara Film Kawentar, Jumat (26/4/2019).

Film dengan durasi 115 menit itu mencoba mengupas sejarah dan kebudayaan di Blitar. Mulai tempat-tempat bersejarah seperti candi, Makam Bung Karno, tokoh-tokoh lokal, tempat wisata, hingga Gunung Kelud.

Selain mengangkat tentang potensi kearifan lokal, sejarah budaya dan pariwisata Blitar menjadi setting utama dalam film ini ia mengatakan, Blitar merupakan daerah kecil yang kaya dengan sejarah. Banyak situs kerajaan yang beridiri di Blitar. Candi-candi yang dipercaya menjadi makam raja juga ada di Blitar.

Seperti halnya, Candi Simping di Desa Sumberjati, yang dipercaya sabgai pendharmaan Raden Wijaya, raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit. Lalu di sisi timur tepatnya di Desa Sawentar ada candi Sawentar yang dipercaya menjadi tempat pendharmaan Anusopati raja ke dua Kerajaan Singhasari.

Di wilayah barat tepatnya di puncak gunung Pegat masuk Desa Bagelenan, Srengat ada candi Mleri. Candi Mleri ini dipercaya sebagai makam Ranggawuni, raja ketiga Kerajaan Singasari.

Sementara itu, di wilayah utara masuk Desa Penataran, Nglegok, ada Candi Penataran. Candi ini sebagai pertemuan tiga peradaban, yaitu, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, dan Kerjaan Majapahit. Candi ini sebagai tempat upacara kerajaan.

Selain itu, menurutnya ada beberapa poin yang perlu ditambahkan dalam film tersebut. Ia ingin menyampaikan melalui film ini bahwasanya putera daerah itu banyak di Blitar yang sudah berkarya, salah satunya kita mengambil scene putera-putera daerah yang sudah berkarya.

“Terkadang orang Blitar sendiri tidak tau bahwa mereka sudah berkaya diluar blitar. Maka diharapkan film ini bisa menjadi icon Blitar nanti, kenapa? Karena apa yang kita sampaikan nanti adalah bahwa inilah blitar, ini lo karakter orang blitar seperti ini,” jelasnya.

Ia berharap, film garapannya ini bisa mewakili tentang Blitar. Film ini adalah salah satu wujud kepedulian kami pada masyarakat Blitar. Bahwa inilah Blitar yang amat kaya dengan seni budaya, kearifan lokal, budaya, sejarah dan pariwisatanya.

“Dari sini nanti kita sampaikan. Dan film ini akan kita tayangkan lagi di bioskop insyaallah awal bulan Mei setiap hari Sabtu dan Minggu. Kami berharap masyarakat bisa menyaksikan film ini, nanti kita semua kru dan pemain akan terus menyapa dan mendampingi film tersebut,” pungkasnya.