BALITAR.ID, Blitar – Tata kelola destinasi pariwisata adalah pengelolaan destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis yang mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistematik.

Upaya pengembangan tata kelola destinasi wisata di Kabupaten Blitar terus digalakkan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (DIsparbudpora) Kabupaten Blitar dengan menggelar Outing Program Tata Kelola Destinasi Wisata di Desa Wisata Kaki Langit Mangunan Bantul Yogyakarta. Pelatihan yang digelar mulai Rabu-Jumat (19-21/6/2019) ini diikuti oleh 40 praktisi pariwisata dan diisi dengan kegiatan padat materi dari pihak pengelola Desa Wisata Kaki Langit dan juga Pusat Penelitian UGM Yogyakarta.

Sehari sebelumnya para peserta pelatihan Outing Program Tata Kelola Destinasi Wisata di Desa Wisata Kaki Langit telah dibekali berbagai materi tentang Tata Kelola Destinasi Wisata dan potensi Kabupaten Blitar di Gedung Bhakti Budaya Disparbudpora Kabupaten Blitar pada Selasa (18/62019).

Tata Kelola Pariwisata Kabupaten Blitar 2019, Tekankan Sinergitas Pentahelix Untuk Kemajuan Pariwisata Di Blitar

Dari kegiatan Outing Program Tata Kelola Destinasi Wisata tersebut setidaknya ada beberapa poin penting yang bisa diambil dan diterapkan oleh para praktisi dan pegiat wisata di Blitar.

 

Desa Wisata Kaki Langit merupakan kawasan wisata yang mengalami perkembangan yang cukup pesat di daerah Bantul Yogyakarta.

Menurut penuturan Ketua Pokdarwis Desa Wisata Kaki Langit Sumijan (73), dulunya kawasan Mangunan hanya sebatas kebun buah yang memang memiliki view yang cukup bagus dan menarik, lalu mulailah pengelola mengembangkan kawasan Mangunan dengan menambah beberapa spot wisata. Terlebih dengan topografi yang berbukit-bukit yang saat itu menjadi incaran para wisatawan.

“Awalnya dulu sini hanya menjadi pintu keluar dan pintu masuk kawasan Kebun Buah mangunan, dan masyarakat disini hanya melongo melihat wisatawan yang keluar masuk kebun buah Mangunan,” ungkap Sumijan.

Melihat respon wisatawan yang sangat bagus di Kawasan Kebun Buah Mangunan, pengelola pun semakin mengembangkan potensi-potensi wisata yang ada di sekitar Mangunan yang akhirnya dirintislah Desa Wisata Kaki Langit pada tahun 2015.

Selain kawasan wisata seperti Hutan Pinus Mangunan, Watu Lawang, dan Slembrang, desa wisata Kaki Langit juga mengembangkan potensi-potensi lain seperti tradisi, seni budaya, kerajinan, wisata alam, outbond dan souvenir khas Kaki Langit. Bahkan baru-baru ini, pengelola membangun beberapa homestay berupa rumah limasan untuk akomodasi wisatawan yang ingin bermalam di desa wisata Kaki Langit.

“Pada saat itu yang menjadi gagasan utama kami untuk membentuk desa wisata Kaki Langit ini adalah anak-anak kami yang setelah lulu SMA ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Dari sinilah jika kita hanya begini-begini saja maka kita tidak akan kesulitan membiyai anak kita untuk sekolah, maka timbullah ide untuk menambah penghasilan dari wisata,” sambung Sumijan.

Profesi masyarakat desa Kaki Langit rata-rata bekerja sebagai petani, buruh dan sebagian pengrajin kayu juga menjadi daya tarik wisata Kaki Langit. Berbagai furniture dan souvenir seperti figura, meja-kursi, kap lampu bisa menjadi oleh-oleh khas desa Kaki Langit.

Hingga pada tahun 2017 ini, desa wisata Kaki Langit masuk menjadi salah satu kandidat Kampung Adat Terpopuler dalam Penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2017 dan menjadi finalis Lomba Desa Wisata Tingkat Nasional 2017 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata.

Sementara itu, akademsi dan peneliti pariwisata dari Pusat Penelitian Pariwisata UGM Yogyakarta Esti Cemporaningsih menjelaskan, perkembangan pesat yang diraih oleh Desa Wisata Kaki Langit tidak lepas dari penerapan sapta pesona dan sinergi antar masyarakat dalam konsep Comunity Based Tourism sebagai dasar Tata Kelola Destinasi Wisata di Desa Mangunan.

“Selain pentingnya penerapan sapta pesona, sinergitas  para stakeholder dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat ini menjadi sangat penting. Pasalnya, kesadaran masyarakat dalam membangun pariwisatanya sendiri tentu mengalami proses jatuh bangun yang cukup panjang. Masyarakat disini dituntut survive untuk menghadapi berbagai tantangan dalam membangun kehidupan masyarakat sadar wisata,” jelasnya.

Memposisikan masyarakat setempat sebagai subjek dalam upaya mengelola sumber daya lokal untuk pariwisata secara berkelanjutan menjadi elemen pendukung yang sangat penting dalam menunjang kesuksesan pariwisata berbasis masyarakat. Tujuan dari konsep CBT sendiri adalah memberdayakan masyarakat dengan menyajikan tradisi dan gaya hidup lokal, melestarikan sumberdaya alam dan budaya, serta interaksi antara wisatawan dan tuan rumah. CBT biasanya melayani pasar khusus seperti wisata petualangan, wisata budaya, ekowisata dan agrowisata.

Menurut Esti, Prinsip CBT setidaknya meliputi beberapa elemen, diantaranya, pelibatan masyarakat setempat, membangun kemitraan dengan pihak-piha terkait, mengangkat kearifan dan tradisi local serta adanya pembagian keuntungan yang transparan.

Selengkapnya Download disini: Perencanaan Tata Kelola Destinasi Wisata Puspar UGM Yogyakarta 2019.pptx

Selain belajar tata kelola serta pengenalan potensi, para peserta sangat antusias dalam kesempatan pelatihan dan studi banding dan kegiatan tata kelola destinasi wisata tersebut. Para praktisi pariwisata yang terdiri dari pokdarwis, OPD setempat dan perangkat tersebut memetakan potensi yang ada di desa masing-masing dan membuat perencanaan tata kelola pariwisata di desanya.

Sementara itu, Sotya Sasongko dari Pusat Penelitian UGM dalam kesempatannya menyampaikan, managemen tata kelola destinasi wisata bukan hanya berkutat pada pembangunan fisik semata, akan tetapi adanya kesadaran SDM untuk mengelola pariwisatanya itu sendiri serta membangun jaringan dengan pemerintah dan stakeholder lainnya.

“Harapannya para peserta pelatihan dari Blitar bias memahami tata kelola destinasi wisata tidak hanya berkaitan dengan tata kelola pembangunan secara fisik, yang saya tekankan dalam materi pelatihan kali ini lebih kepada pembangunan masyarakat dari segi SDM nya. Dimana masyarakat memiliki kemauan dan tekat yang kuat dalam membangun wisatanya melalui kelompok kecil dahulu hingga perubahan dan dampaknya bisa dirasakan dan mendorong keikutsertaan dari masyarakat sekitar itu sendiri,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar menekankan, bahwasanya kemajuan pariwisata di Blitar bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Pembangunan tersebut akan tercipta dari adanya sinergitas yang harmonis antar elemen pemerintah, pegiat wisata/ pokdarwis, akademisi, pelaku bisnis, media dan juga komunitas.

“Saat ini kita mestinya malu, karena pemerintah pusat sendiri menaruh perhatian khusus dalam dunia kepariwisataan. Bahkan omset dari pariwisata sendiri ditempatkan pada posisi kedua setelah migas, karena potensi alam kita yang sangat luar biasa. Oleh karena itu, saya menaruh harapan besar pada temen-temen pokdarwis dan para pegiat wisata Blitar ini untuk membangun suatu hunungan yang harmonis untuk membawa kemajuan pariwisata di Blitar kita tercinta,” tandasnya.

Belajar dari Desa Wisata Kaki Langit Mangunan Bantul Yogyakarta, artinya masih banyak yang harus kita kerjakan. Berbicara pariwisata kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan wisata yang menarik bagi wisatawan. Intinya dari Outing Program Tata Kelola Destinasi Wisata ini banyak sekali ilmu yang kita dapat, maka para peserta kali ini dituntut untuk memberikan perubahan yang nyata pada dunia pariwisata di Kabupaten Blitar.