BALITAR.ID, Blitar – Selain terkenal dengan keindahan wisata alamnya, Blitar juga terkenal dengan  budayanya yang masih sangat kental. Bahkan ada satu desa di Blitar yang masih memengang teguh falsafah hidup dan kearifan budaya jawa mataraman.

Ya, Desa Wisata Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar ini budaya Jawa, terutama budaya Mataraman masih kental dan dilestarikan menjadi budaya masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sekilas ketika berkunjung ke Desa Kemloko mungkin akan tampak seperti desa-desa di jawa terutama di Blitar pada umumnya. Namun apabila kita telusuri lebih dalam di desa ini terdapat berbagai daya tarik budaya dan sejarah yang masih eksis hingga saat ini.

Asal-usul keberadaan desa Kemloko sendiri berawal dari pelarian para pasukan elit Pangeran Diponegoro atau biasa disebut Laskar Bulkiyo pasca perang Jawa 1825-1830 untuk menghindari kepungan penjajah Belanda. Hingga tiba lah mereka di suatu tempat di dekat Sumber Air Kali Primbon, dimana di lokasi tersebur ada sumber air besar dan ada Pohon Kemloko yang besar kurang lebih setinggi 12 meter dan ada batu besar didekatnya.

“Konon buah kemloko merupakan buah yang memiliki banyak khasiat obat dan merupakan buah yang dibawa oleh Patih Gajah Mada saat ekspedisi palapa, makanya di daerah-daerah kekuasaan majapahit banyak penyebutan yang mirip seperti malaka, maluku hingga penyebutan buah kemloko itu sendiri. Oleh karena itu para leluhur yang membabat dan menetap disini memberikan nama Desa Kemloko,” ungkap Fendi (35) Ketua Pokdarwis Desa Wisata Kemloko saat ditemui BALITAR.ID.

Dalam proses perjuang menyatukan semangat Perjuangan Melawan Penjajah Belanda mereka memiliki strategi berkumpul dengan cara melestarikan kesenian yang dibawa dari Mataram yaitu Tarian Reog Bolkiyo yang tujuan juga untuk merawat Bende dan keahlian berperang yang dibawa dari Keraton Mataram.

Selain kental dengan budaya mataraman, Desa Wisata Kemloko juga memiliki daya tari human interest melalui edukasi mengolah gula jawa, kakao dan kopi. Menurutnya keberadaan gula jawa sendiri merupakan warisan budaya yang sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit yang masih banyak ditekuni sebagai pekerjaan di Kemloko, Nglegok dan sekitarnya.

“Keberadaan gula jawa ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit yang saat itu bendera Majapahit disebut bendera Getih Getah atau Juga bendera Gula Kelapa. Disini pengunjung selain mendapatkan edukasi juga akan diajari cara mengolah gula kelapa mulai dari nira yang baru diambil sampai proses pemasakan hingga menjadi gula kelapa,” terangnya.

Sementara itu, di bidang agrobisnis pengunjung akan mendaptkan edukasi tentang tanaman kopi dan kakao. Yang mana kopi dan kakao di Kemloko merupakan salah satu komoditas unggulan mayoritas masyarakat di desa wisata tersebut.

“Uniknya di kemloko ini memang mewarisi kebudayaan masyarakat dari beberapa era, mulai dari pengolahan gula kelapa dari masa kerajaan Majapahit, kebudayaan Reog Bulkiyo pada masa Mataraman, kopi dan kakao dari kebudayaan masyarakat pada masa colonial belanda dan budidaya ikan koi pada masa penjajahan jepang yang banyak dikembangkan di Kemloko, Nglegok dan sekitarnya,” papar Fendi.

Selain itu, di Desa Wisata Kemloko ini juga menawarkan homestay dengan suasana pedesaan yang masih asri. Menurutnya, dengan human interest masyarakat desa yang memegang teguh budaya masyarakat jawa yang masih cukup kental, pengunjung yang menginap mendapatkan kesan tersendiri hingga betah berhari-hari bahkan berbulan-bulan di desa Wisata Kemloko.

“Kebanyakan yang menginap di homestay kita akan mendapatkan kesan tersendiri, karena memang mayarakat yang menyediakan homestay di Kemloko dengan ramah memperlakukan tamu seperti keluarga sendiri. Bahkan pernah ada tamu mahasiswa dari Bruney sangat betah tinggal di Kemloko, bahkan waktunya pulang karena study bandingnya sudah habis dia gak mau pulang karena merasakan kedekatan emosional dengan masyarakat sekitar,” tutup Fendi.