BALITAR.ID, Blitar – Sudah menjadi tradisi tiap tahun, terutama pada musim kemarau panjang seperti saat ini, warga Dusun Banyuurip, Desa Sumberingin, Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar, mengelar tradisi kesenian tradisional Tiban.

Tiban merupakan tradisi atau ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terutama di Blitar, Tulungagung, Kediri dan sekitarnya.

Tiban merupakan tradisi budaya yang melibatkan dua orang dewasa yang beradu ketangkasan bela diri layaknya petinju di atas ring. Namun cara bertarungnya mengunakan cambuk yang terbuat dari rotan. Cara mencambuknya bergantian, masing-masing petarung mendapatkan giliran tiga kali mencambuk lawan.

“Disini tidak ada yang juara, akan tetapi ini tradisi kesenian ketangkasan bela diri dengan mencambuk lawan ataupun mengindari cambukan. Disini kita lestarika untuk menjalin persaudaraan dengan para jawara Tiban dari berbagai daerah,” terang Mustofa ketua pelaksana tradisi tiban di Banyuurip saat ditemui BALITAR.ID, Jumat (02/07/2019).

Menurutnya, kata tiban diadopsi dari tembung sanepa dari kata ‘tiba’ yang berarti jatuh. Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam konteksnya dengan peristiwa tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh dengan mendadak terjatuh dari langit.

Oleh karena itu, tiban ini selalu digelar saat musim kemarau panjang. Tradisi ini menjadi sebuah permohonan kepada yang maha kuasa berharap untuk diturunkanya hujan. Dalam tradisi ini juga bukan unsur kekerasan yang ditonjolkan, melainkan nilai-nilai luhur atau sebuah pesan untuk menjaga keseimbangan alam.

“Tradisi ini kan sudah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu dan sekarang turun temurun, maksud kita lebih pada nguri-nguri budaya leluhur yang mungkin sudah jarang. Sedangkan di Blitar sendiri penggemarnya masih banyak, makanya tetap kita lestarikan,” ungkap Mustofa.

Meski setelah diselenggarakan tradisi tiban belum juga ada tanda-tanda akan turun hujan, akan tetapi warga sekitar percaya dengan adanya tradisi ini musim hujan akan segera datang.

“Bisa dibilang, bagi kita yang usia sudah usia 50 tahun keatas banyak yang meyakini akan segera datang musim hujan. Melalui tradisi ini kita memohon pada yang kuasa agar cepat datang musim hujan, namanya memohon ya kita harus yakin. Selain itu tradisi ini juga untuk mengisi kegiatan para kawula muda untuk menjaga kebugaran dan juga untuk mengisi kegiatan yang bersifat positif,” tukas Mustofa. (*)