BALITAR.ID, Blitar – Tak hanya ritual jamasan pusaka Gong Kyai Pradah di Lodoyo saja yang dilakukan setiap Bulan Maulud, jamasan pusaka wayang kayu Kiai Bonto juga digelar di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Senin (11/11/2019).

Sama halnya seperti di Lodoyo, jamasan pusaka ini mengundang animo ribuan warga yang menanti berkah dari bekas air untuk mensucikan wayang kayu Kyai Bronto. Warga percaya air tersebut dapat mendatangkan berkah kebaikan.

Ritual penjamasan wayang kayu Kiai Bonto ini diawali dengan kirab wayang kayu peninggalan Prabu Agung Sunan Probo dan Raden Ayu Mayangsari menuju pesarean putrinya yakni Raden Ayu Suwartiningsih. Setelah ritual nyekar di pesarean wayang kayu Kyai Bonto selanjutnya dikirap menuju tempat penjasamasan yang tak jauh dari pesarean.

Selanjutnya dilakukan siraman terhadap tiga buah wayang kayu yang dilakukan oleh juru kunci dan sesepuh desa setempat. Sebelumnya, wayang kayu Kyai Bonto ditaburi kembang setaman oleh juru kunci dan selanjutnya disucikan menggunakan air yang sudah ditaburi dengan kembang setaman.

Usai ritual penyucian Wayang Kiai Bonto, warga rela berdesak-desakan untuk berebut gunungan tumpeng dan juga air bekas penyucian pusaka wayang kayu Kiai Bonto. Warga percaya, air bekas penjasaman dan bunga setaman tersebut mendatangkan berkah.

Menurut Kepala Desa Kebonsari, Subakri mengatakan, asal usul wayang kayu Kiai Bonto di Dusun Pakel memang masih berkaitan erat dengan keberadaan Gong Kiai Pradah yang ada di Lodoyo. Keduanya merupakan pusaka yang dibawa oleh Sunan Prabu Amangkurat Mas saat melarikan diri dari kekacauan di Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Menurut sejarah, Sunan Prabu Amangkurat Mas bersama istrinya berjalan ke arah timur. dalam perjalanannya Sunan Prabu Amangkurat Mas singgah di Blitar, tepatnya di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan. Di tempat ini beliau memiliki seorang putri yang bernama Raden Ayu Suwartiningsih yang setelah meningalnya dimakamkan di sebuah bukit yang sekarang berada di Dusun Pakel,” papar Subakri saat ditemui BALITAR.ID.

Dalam perjalanannya, Sunan Prabu Amangkurat Mas membawa pusaka berupa dua kotak wayang krucil yang disebut Kyai Bonto dan sebuah gong yang bernama Kiai Becak. Konon kedua pusaka tersebut boleh dibuka oleh gurunya ketika dalam kesulitan.

Akhirnya wayang tersebut dibuka oleh Pangeran Prabu ketika sedang singgah di sebuah bukit dibawah pohon pakel. Disitu beliau merasa sedang dalam kesusahan karena istrinya hamil tua dan melahirkan, akan tetapi puterinya yang baru berusia semalam. Akhirnya wayang Kiai Bonto ditinggal di Dusun Pakel dimana tempat puterinya dimakamkan, sedangkan Gong Kiai Becak tetap dibawa hingga ke Lodoyo.

“Setibanya di Lodoyo, Pangeran Prabu menemui peristiwa yang aneh disana karena sedang terjadi pageblug. Banyak warga di Lodoyo yang paginya sakit sorenya meninggal dan sorenya sakit paginya meninggal. Melihat peristiwa itu Pangeran Prabu merasa iba dan memberikan pusaka Gong Kiai Becak pada Mbok Rondo Dadapan untuk mengatasi musibah itu, akhirnya musibah itu bisa teratasi dan akhirnya Gong itu ditinggal disitu dan dititipkan pada mbok Rondo Dadapan,” terangnya.

Menurut Subakri, Siraman Kyai Bonto ini merupakan tradisi kuno yang sudah bertahun–tahun lamanya untuk mengingat sejarah tentang cikal bakal berdirinya Desa Kebonsari. Menurut sejarah Desa Kebonsari pertama kali dibuka oleh Sunan Prabu sekitar abad 18. Hingga dengan kepercayaan tersebut sampai sekarang banyak yang percaya bahwa air bekas jamasan wayang kayu Kiai Bonto Dapat Mendatangkan Berkah.

“Sampai saat ini kami warag Desa Kebonsari melakukan kegiatan tradisi jamasan ini untuk menguri-uri budaya peninggala leluhur, karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama demi kelestarian budaya. Budaya ini harus dijaga dan harapan kami tradisi jamasan wayang Kiai Bonto ini bisa diakui sebagai warisan budaya tak benda yang ada di Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar,” tukas Subakri