BALITAR.ID, Blitar – Sosok Mbah Moedjair dan ikan mujair temuannya yang mendunia mungkin sudah tidak asing lagi di telinga warga Blitar dan sekitarnya. Untuk memperingati jasa penemu ikan mujair ini warga Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar menggelar Haul dan doa bersama di depan Komleks Makam Mbah Moedjair pada Minggu (22/9/2019).

Haul ini merupakan agenda rutin tahunan yang diinisiasi oleh relawan Kampung Mujair bersama dengan keluarga besar Mbah Moedjair dan pemerintah Desa Papungan setiap tanggal 22 September. Acara yang digelar sederhana ini diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama.

Kegiatan ini sangat didukung oleh pemerintah daerah, nampak hadir dalam haul tersebut Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda Dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar Suhendro Winarso, Camat Kanigoro Darmaji, sejumlah pegiat wisata dan keluarga Besar Mbah Moedjair.

Kepala Dinas Parbudpora Suhendro Winarso dalam sambutannya mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif warga untuk membuat Haul Mbah Moedjair ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan tradisi yang baik dan harus terus dilestarikan, yakni mendoakan serta mengenang jasa para pendahulu seperti Mbah Moedjair.

“Tentunya ini adalah kegiatan yang sangat baik, Mbah Moedjair adalah sosok yang hingga kini patut kita kenang. Seperti kita ketahui, Mbah Moedjair semasa hidupnya hingga kini manfaat dan karyanya tetap memberi manfaat bagi orang banyak, bukan hanya di Indonesia saja bahkan dunia. Berkat jeri payahnya menemukan ikan mujair, kini namanya tetap kita kenang dan terus memberikan manfaat bagi orang banyak,” ungkapnya.

Sementara itu, Satrio Wibowo relawan Kampung Mujair sekaligus cucu buyut Mbah Moedjair mengatakan Haul Mbah Moedjair ini adalah kegiatan rutin tahunan dari Relawan Kampung Mujair dan Keluarga Besar. Awalnya dulu sejak tahun 2012 kita adakan doa bersama keluarga terdekat saja sampai saat ini kita bisa mengumpulkan keluarga besar.

“Sebenarnya kalau haulnya Mbah Moedjair sendiri tepatnya tanggal 7 September, tapi kita ambil diakhir bulan. Awalnya dulu kita adakan doa bersama keluarga terdekat saja, sampai saat ini kita bisa mengumpulkan keluarga besar,” kata Satrio.

Satrio menambahkan, selain berkirim doa, kegiatan haul ini merupakan bentuk kepedulian warga dan keluarga besar untuk melestarikan ikan Mujair. Menurutnya, ikan yang menjadi maskot Desa Papaungan ini kini mulai sulit ditemui, oleh karena itu warga terus berupaya mencari dan mengembangbiakkan ikan tersebut.

“Sejak tahun 2012 itu kita rintis, kita mendapatan support dari warga juga, jadi ada salah salah satu kolam tua milik warga itu yang ada ikan mujair asli kita kordinasi terus disuruh mengambil, kalau memang untuk acara haulnya mbah kita ambil semua tidak apa-apa. Setelah itu sisanya kita kembang biakkan di kolam, setelah berkembang banyak itu ternyata kemasukan satu ikan predator jadi habis semua, sejak itu kita kesulitan cari ikan mujair ini. Hingga kini warga berharap ikan ini bisa kembali dikembangbiakkan dan menjadi potensi wisata kuliner khas Desa Papungan,” tukasnya.