BALITAR.ID, Blitar – Larung sesaji tiap 1 Muharram (1 suro) sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi warga pesisir pantai Selatan, khususnya di Pantai Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Tradisi ini diyakini sebagai upaya mensyukuri nikmat tuhan berupa rejeki, keselamatan serta hasil alam yang melimpah.

Tiap tahunnya, tradisi ini selalu dinantikan ribuan pengunjung dari berbagai daerah-daerah. Akan tetapi, adanya pandemi Covid-19 kali ini kegiatan Larung Sesaji diselenggarakan lebih sederhana dengan pembatasan pengunjung dan juga penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Tradisi Larung Sesaji yang digelar tiap tahun ini selalu diisi dengan kirab tumpeng dan sesaji yang diarak dari Kantor Desa Serang menuju pesisir pantai untuk didoakan. Prosesi ini dipimpin oleh ketua adat dengan pengantar doa kenduri (Ujub) serta ungkapan-ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun, serta harapan memperoleh hasil yang baik tanpa ada halangan dan terhindar dari wabah dan musibah.

Untuk mengawali prosesi kegiatan ini, biasanya terlebih dahulu dibacakan sejarah Desa Serang dan tujuan dilaksanakannya prosesi larung sesaji. Selanjutnya gunungan yang telah didoakan diarak menuju bibir pantai untuk dilarung.

Dua buah Gunungan Sesaji wujud syukur masyarakat atas hasil alam yang melimpah dari tuhan yang Maha Esa (Foto: Tim Kreatif Disparbudpora Kabupaten Blitar)

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Blitar Rijanto didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar Totok Subihandono, Perwakilan DPRD Provinsi Jawa Timur Anggia Erma Rini, Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Blitar Suhendro Winarso, Perwakilan Perhutani dan sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah OPD di lingkungan Pemkab Blitar.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Blitar Rijanto sangat mengapresiasi tradisi adat Larung Sesaji yang diselenggarakan oleh masyarakat di pesisir selatan utamanya Pantai Serang, menurutnya meskipun tahun ini banyak kegiatan yang ditiadakan karena pandemi Covid-19. Akan tetapi tradisi Larung Sesaji ini masih bisa diselenggarakan meski sangat sederhana dan tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

“Upacara adat Larung Sesaji yang setiap tahun kita adakan ini betul betul lebih berkualitas, meskipun saat ini di tengah pandemi covid 19. Namun untuk tahun ini kita adakan sangat sederhana, kalau tahun-tahun sebelum adanya pandemi Larung Sesaji ini sangat luar biasa rombongan dari Blitar, mulai dari DPRD, Forpimda dan seluruh OPD mengikuti prosesi ini. Akan tetapi saat ini pandemi covid 19 masih sangat luar biasa sekali di daerah kita, kali ini kita sederhanakan dan disiplin menerapkan protokol kesehatan” jelas Bupati Rijanto usai mengikuti prosesi Larung Sesaji, Jumat (21/8/2020).

Bupati menambahkan, menurutnya kegiatan tradisi Larung Sesaji di Pantai Serang ini merupakan agenda tahunan untuk memperingati masuknya bulan Suro penanggalan kalender Jawa. Sekaligus Tahun Baru Islam 1441 Hijriah yang jatuh pada bulan Muharram. Selain menjadi tradisi yang dilakukan turun temurun, menurutnya kegiatan ini juga bisa menjadi salah satu potensi wisata untuk mendatangkan wisatawan di Kabupaten Blitar.

Gunungan Sesaji sedang diarak warga ke tengah laut (Foto: Tim Kreatif Disparbudpora Kabupaten Blitar)

“Dengan diadakannya kegiatan tahunan Larung Sesaji di pantai Selatan, khususnya Pantai Serang, tentu harapannya kegiatan ini semakin berkualitas dan bisa bisa menjaga tradisi ini dengan baik serta bisa mendatangkan wisatawan. Dan tentunya apabila tradisi ini terus kita jaga dan kita lestarikan nantinya akan terus membawa dampak ekonomi yang luar biasa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengatakan, pelaksanaan kegiatan masyarakat dan kegiatan adat tetap bisa dilaksanakan dengan lebih sederhana dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, menurutnya saat ini beberapa destinasi wisata yang bisa buka sudah menerapkan protokol kesehatan dan mendapat rekomendasi dari Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Blitar.

“Jadi untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan tradisi semacam ini sebaiknya tetap kita laksanakan namun harus kita batasi dan lebih disederhanakan lagi serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Saat ini belum semua destinasi wisata bisa beroperasi dan menerima kunjungan, bagi destinasi yang sudah siap menerapkan protokol kesehatan kami persilahkan untuk mengajukan permohonan ke Tim Satgas. Harapan kita kegiatan seperti ini bisa tetap diselenggarakan dengan protokol kesehatan, tetap patuhi anjuran dari pemerintah dan pesan kami jangan sampai ada penambahan klaster di tempat wisata karena dampaknya tentu akan sangat merugikan sekali,” tukasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here