BALITAR.ID, Blitar – Mungkin tidak berlebihan jika Blitar mendapatkan julukan Tanah Seribu Candi. Sejumlah bangunan candi dan situs-situs bersejarah mulai peninggalan Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, hingga Kerajaan Majapahit tersebar di wilayah Blitar.

Di Blitar, Situs Candi Simping menjadi salah satu alternatif liburan bagi pelajar dan para sejarawan untuk menggali sejarah atau sekedar menghabiskan waktu untuk bersantai menikmati teduhnya suasana pedesaan.

Menurut Juru Pelihara Candi, Susilo, sejak dibukanya wisata sejarah Candi Simping pukul 08.00 WIB, mulai banyak pengunjung yang berdatangan.

“Tidak hanya dari Blitar saja, pengunjung dari berbagai daerah mulai Tulungagung, Kediri, Malang Mojokerto, Banyuwangi, bahkan rombongan dari Bali banyak yang singgah disini,” kata Susilo saat ditemui BALITAR.ID, Senin (14/10/2019).

Meski saat ini Candi Simping telah runtuh dan menyisakan teras candi beserta puing-puing reruntuhan saja, akan tetapi menurut Susilo dilihat dari panjang teras 11,75 meter dan lebarnya 8,5 meter maka tingginya bisa diperkirakan mencapai 18 hingga 20 meter.

“Itu diperkirakan dari ukuran patung kepala kepala Kala yang berukuran cukup besar, bahkan penemuan patung kepala Betarakala di Candi Singosari maupun Candi Kidal tidak sebesar itu. Diameter bagian bawah Candi Sawentar dan Penataran terutama bagian depan lebih kecil dari Candi Simping. Selain itu, terdapat dua ribu lebih batu candi yang menumpuk di sekitar Candi Simping,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, Candi Simping merupakan satu dari ribuan situs candi di Blitar yang mimiliki nilai sejarah cukup penting bagi bangsa Indonesia.

Betapa tidak, Candi Simping merupakan tempat pendharmaan Raden Wijaya, yakni raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit yang menjadi cikal bakal terbentuknya Nusantara.

“Di candi ini dulu pernah ditemukan arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Raden Wijaya. Arca Harihara yang masih dalam kondisi bagus dan utuh ini sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta,” ungkapnya.

Raden Wijaya, sang proklamator atau founding father pendiri Kerajaan Majapahit wafat pada tahun1309 Masehi dan abunya didarmakan di Candi Simping. Penegasan tentang keberadaan candi ini tertulis dalam Kitab Negarakertagama Pupuh XLVII/3 bagian yang ketiga, yang berbunyi:

“Tahun Saka Surya mengitari bulan (1231 Saka atau 1309 M), Sang Prabu (Raden Wijaya) mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam dia, dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa”

Meski keadaannya sudah runtuh, namun aura dan nuansa Majapahit masih bisa dirasakan di candi ini. Sehari-hari orang yang berkunjung ke situs bersejarah ini juga tidak banyak. Menurut Susilo, dalam satu bulan orang yang berkunjung ke tempat ini hanya sekitar 400 hingga 500 orang. Cukup sedikit bila dibandingkan dengan Candi Penataran dan candi-candi lain.

“Pada musim-musim pemilu seperti ini, diluar jam kunjungan bahkan tengah malam tak jarang orang kesini untuk berziarah, atau sekedar untuk meditasi dan mengheningkan cipta, ya mungkin untuk meminta restu atau nuwun sewu,” tutur Susilo.

Belakangan ini dengan adanya program paket wisata pelajar ‘Olas Kembar: Ojo Lungo Adoh Sak Durunge Kemput Blitar’ dari Pemkab Blitar, menurut Susilo cukup bisa menghidupkan kunjungan wisata di Candi Simping. Sejumlah pemuda Karang Taruna Nusantara 1 Desa Sumberjati tergerak dan ikut peduli dengan menjadi local guide bagi wisatawan di Candi Simping.

“Alhamdulillah adanya paket wisata tersebut sekarang teman-teman Karang Taruna bisa membantu memandu wisatawan dengan jadi pemandu. Kebanyakan wisatawan adalah siswa yang melakukan penggalian sejarah jadi sedikit-sedikit Karang Taruna bisa membantu menjelaskan,” ungkap Nanda Bagus P, local guide di Candi Simping.

Bagaimana pun Candi Simping merupakan tempat yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Proklamator Bung Karno menyatukan nusantara terinspirasi dari Gadjah Mada dengan sumpah palapa. Bicara sumpah palapa kita tidak bisa lepas dengan Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit.

“Untuk menggali kembali semangat keBhinekaan dan mengingat kembali kejayaan Majapahit setiap 17 November kita ada kegiatan ‘Getih Getah Gula Klapa’ untuk memperingati hari jadi Majapahit. Disitu akan ada kirab pataka dan juga pagelaran kesenian,” tutupnya.