BALITAR.ID, Blitar – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui Dinas Pariwisata Budaya dan Olah raga (Disparbudpora) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Batik Khas Kabupaten Blitar, Jumat (20/12/2019) di Gedung Bhakti Budaya Kantor Dinas Disparbudpora.

Dalam kegiatan ini, Disporbudpora menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Pengembangan Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu (LP2MP3M) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang dalam hal ini diwakili tim Pusat Kajian Pengembangan Citra Kawasan dan Industri Kreatif. Bertindak sebagai narasumber adalah Drs. Jati Purnomo M.Sn, Tim Ahli Pusat Kajian Pengembangan Citra Kawasan dan Industri Kreatif ISI Surakarta.

Acara yang diadakan dalam rangka menjaring berbagai masukan dan informasi terkait dengan motif batik khas Blitar ini dihadiri Hj Ninik Rijanto selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kabupaten Blitar, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Blitar Suhendro Winarso, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Agus Muntholip. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari para pelaku industri UKM batik, guru batik, budayawan dan perwakilan OPD Kabupaten Blitar.

Jati Purnomo Tim Ahli Pusat Kajian Pengembangan Citra Kawasan dan Industri Kreatif ISI Surakarta mengatakan untuk menentukan motif batik khas daerah yang pertama tentu kita lihat potensi daerah itu yang banyak dan besar potensinya. Salah satunya yang menjadi kekhasan dari Kabupaten Blitar yakni dikenal dengan tanah seribu candi dan salah satunya Candi Penataran, Komplek Candi terbesar di Jawa Timur.

“Kalau di Blitar ini yang terkenal yakni komplek Candi Penataran atau nama lainnya yakni Candi Palah itu tadi. Disana ada motif khas yang hanya dimiliki oleh Kabupaten Blitar yakni relief bentuk medali dan juga Surya Majapahit. Selain itu ada tambahan dari para peserta yakni puncak dari Candi Penataran, itu yang coba kita tawarkan untuk memantik diskusi ini,” ungkap Jati Purnomo saat ditemui BALITAR.ID.

Menurutnya, dari dua motif tersebut terdapat beberapa filosofi yang dapat menggambarkan Blitar secara keseluruhan. Mulai dari jenis flora dan fauna yang ada dalam relief tersebut banyak mengandung filosofi yang menjadi ke khasan dari Kabupaten Blitar.

“Sebenernya hal itu untuk memantik diskusi saja akan tetapi dari hasil diskusi ini kebanyakan peserta sepakat bahwa dari motif medali dan Surya Majapahit tersebut dapat mewakili motif batik khas Blitar. Dari situ nantinya akan ada pengembangan motif-motif yang lain,” terangnya.

Sementara itu, NinikRijanto selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kabupaten Blitar mengatakan untuk menentukan motif batik khas Blitar sangat lah penting terutama untuk menjadikan batik Blitar lebih dikebal oleh khalayak umum.

“Hari ini adalah FGD batik khas Blitar yang kedua, kita bersama OPD dan asosiasi batik Blitar berdiskusi untuk menentukan batik khas Blitar. Dan hasilnya hari ini ada dua motif yang telah disepakati yakni motif medali yang ada di Candi Penataran dan juga motif Surya Majapahit,” jelasnya.

Menurutnya, para peserta dari asosiasi batik sangat antusias memberikan gambaran tentang motif batik yang menjadi kekhadan dari Kabupaten Blitar. Dari kedua motif tersebut kebanyakan peserta sepakat untuk mengambil motif medali yang ada di Candi Penataran.

“Dari FGD kali ini sementara para peserta memutuskan kalau motif medali tersebut diganti menjadi motif Cakra Palah. Ini diambil dari nama asli Candi Penataran yakni Candi Palah. Namun kita nanti masih akan mencari tahu nama asli dari motif relief yang ada di Candi Penataran tersebut,” ungkapnya.

Dia berharap, setelah ada setelah ada grup diskusi ini nantinya pada akhir tahun ini sudah dapat disepakati  baik secara mufakat dan akademis tentang motif batik khas yang akan menjadi milik bersama masyarakat di Kabupaten Blitar.

“Harapan saya, setelah adanya grup diskusi ini batik Blitar bisa cepat dikenal oleh masyarakat, baik di Blitar sendiri maupun luar daerah. Karena selama ini Batik Blitar masih bermacam-macam motifnya olrh karena itu kita tentukan motif khas agar nantinya bisa lebih dikenal lagi,” tukasnya.

Perlu diketahui, FGD ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Pengkajian Motif Batik Tulis Khas Kabupaten Blitar yang nantinya hasil akhirnya akan dituangkan berupa buku ber-ISBN. Di dalamnya terdapat panduan dan rekomendasi tentang motif batik khas Kabupaten Blitar. Diharapkan, pada tahun ini sudah dapat disepakati baik secara mufakat dan akademis tentang motif batik khas yang akan menjadi milik bersama masyarakat di Kabupaten Blitar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here