BALITAR.ID, Blitar – Belakangan ini sektor pariwisata menjadi salah satu sektor strategis untuk mengangkat taraf hidup masyarakat. Desa wisata merupakan sektor pariwisata bisa menjadi sektor penopang pemasukan negara di bidang non migas.

Di era yang semakin maju semakin pula banyak cara dan strategi untuk mengangkat potensi wisata di suatu daerah. Masing-masing daerah memiliki kekhasan atau penonjolan karakteristik alam maupun sosio kultural dan aspek lainnya.

Desa memiliki segudang potensi bisnis yang menguntungkan untuk bisa diangkat menjadi komoditas dan dipoles dengan manajemen strategi yang tepat untuk menjadi desa wisata. Salah satu elemen pendukung eksistensi desa wisata adalah adanya sarana penginapan homestay.

Homestay adalah usaha penyediaan akomodasi berupa bangunan rumah tinggal yang dihuni oleh pemiliknya dan dimanfaatkan sebagian untuk disewakan dengan memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari dengan pemiliknya.

Salah satu desa wisata yang sukses mengembangkan pengelolaan homestay yakni Desa Wisata Pentingsari. Terletak di lereng Gunung Merapi sekitar 22,5 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Tepatnya di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, menjadi salah satu desa wisata yang cukup terkenal di Jogja.

Berdiri sejak 2008 lalu, desa wisata yang mengangkat tema ‘Desa Ramah Lingkungan, Kebudayaan dan Pertanian’ ini pernah memperoleh penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award 2017 kategori Green Bronze. Desa Wisata ini juga menawarkan kegiatan wisata pengalaman dalam bentuk pembelajaran dan interaksi.

Proses pengelolaan homestay dan desa wisata yang baik ini ditangkap oleh Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar. Melalui studi lapang, mereka mengajak para pegiat wisata Pokdarwis dan juga pengelola homestay dari beberapa destinasi wisata di Kabupaten Blitar untuk melaksanakan studi lapang ke Desa Wisata Pentingsari, Rabu (29/10/2019).

“Desa Wisata Pentingsari sudah terkenal desa wisata yang cukup maju tingkat nasional dan telah mendunia. Disini kita mengajak para pengelola homestay untuk belajar bagaimana manajemen pengelolaan homestay yang baik dan benar sesuai standar dan juga profesional. Jadi selain diisi dengan kegiatan padat materi teman-teman pengelola homestay ini kita ajak belajar di Petingsari. Disini mereka akan bisa berinteraksi dengan para pelaku homestay yang ada di Petingsari,” ungkap Arkham Maulana Kepala Seksi Pengembangan Kelembagaan Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar (Disparbudpora) Kabupaten Blitar.

Dijelaskannya, studi banding ini merupakan kegiatan yang sangat penting bagi para pelaku wisata, terutama pengelola homestay berbasis masyarakat. Mengingat perkembangan homestay di Kabupaten Blitar semakin pesat. Hal ini tentu harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang bisa mengelola homestay dengan baik sehingga bisa menunjang kunjungan wisata di Kabupaten Blitar.

“Untuk hari pertama kemarin kita isi dengan full teori tentang pengelolaan homestay dan hari kedua kita berikan materi yang lebih aplikatif tentang penataan homestay, manajemen pengelolaan, pembagian klasifikasi, perijinan dan juga pemasaran yang diisi oleh para praktisi yang ada di Jogja. Dan yang terakhir hari ketiga mereka kita suruh praktek serta berinteraksi dengan para pelaku homestay yang sudah profesional,”

Sementara itu, Kepala Dinas Parbudpora, Suhendro Winarso mengatakan, Tolak ukur pengembangan pariwisata saat ini tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan saja, namun juga dihitung dengan ukuran lamanya tinggal. Trend wisatawan saat ini cenderung ingin mencari pengalaman baru dengan tinggal di sebuah perkampungan atau homestay sehingga peran homestay saat ini menjadi sangat penting.

“Harapan kami tentunya pelayanan homestay harus lebih baik, benar, dan profesional, untuk itu SDM pengelola homestay perlu untuk ditingkatkan. Dalam outing progtam ini oara pelaku homestay dituntut untuk bisa merumuskan bagaimana cara menerima, melayani dan melepas tamu, menyusun tata tertib pengunjung, dan bagaimana cara promosi yang efektif,” ungkap Suhendro.

Outing program ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi peserta, sehingga yang dirasa baik, untuk dapat ditiru, dimodifikasi dan diterapkan ketika kembali ke daerah masing-masing. Oleh karena itu, dia berharap, dengan diadakannya pelatihan ini standart pengelolaan homestay di Kabupaten Blitar semakin meningkat. Terutama pada pelayanan pemilik homestay kepada pengunjung, sehingga diharapkan pelayanan yang memuaskan dapat membawa daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Blitar.

“Untuk menunjang kemajuan pariwisata di Kabupaten Blitar perlu adanya sinergitas antar stageholder, mulai dari destinasi, guide, biro perjalanan, pokdarwis, catering, penginapan, hotel hingga homestay. Peningkatan SDM pariwisata ini kita bangun bersama satu persatu sehingga bisa membawa pariwisata Kabupaten Blitar lebih maju,” tandasnya.