BALITAR.ID, Blitar – Tradisi Rampogan Macan secara etimologis terdiri dari 2 kata yaitu Rampogan yang artinya “rayahan” atau “rebutan” dan Macan atau Harimau, bila diartikan secara keseluruhan maka Rampogan Macan adalah sebuah kegiatan “rebutan” Macan untuk dibunuh secara beramai-ramai dengan menggunakan tombak ataupun benda tajam lainnya.

Pada awalnya tradisi ini berkembang sejak abad ke-17 di wilayah kekuasaan Mataram, pada  pemerintahan raja Amangkurat II. Sebagian ada yang percaya bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Singasari.

Foto dokumentasi kematian macan dalam ritual rampok macan di Blitar 1877-1892. (Koleksi Tropen Museum)
Foto dokumentasi pelepasan macan dalam ritual rampog macan di Blitar 1877-1892. (Koleksi Tropen Museum)

Dilansir dari buku ‘Bakda Mawi Rampog’, R Kartawibawa menceritakan soal rampogan macan ini. Buku ini diterbitkan Balai Pustaka (Bale-Poestaka) pada tahun 1923, dipindai oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Djoko Luknanto, dan diunggah di situs staff UGM.

Menggunakan Bahasa Jawa, Kartawibawa menggunakan istilah ‘sima’ untuk merujuk kepada kucing besar ini, terkadang juga menggunakan istilah ‘macan loreng’ untuk merujuk pada harimau, atau menambahkan keterangan untuk macan jenis yang lain.

Di masa kecil penulis, hewan pemakan daging yang tersebar di Pulau Jawa ini masih cukup sering dijumpai. Kadang-kadang, harimau Jawa ini memangsa ternak warga hingga akhirnya diburu.

Bahkan penguasa saat itu memberi imbalan bagi siapa saja yang bisa membunuh si loreng. Satu ekor harimau dihargai 10 hingga 50 Gulden. Dalam kondisi seperti itu, acara rampogan macan menjadi hal biasa.

Di wilayah Blitar, Rampogan Macan berkembang menjadi sebuah acara untuk perayaan menjelang hari besar agama seperti Hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru Islam.

Pertunjukan kolosal yang masih marak dipertontonkan di era 1900-an ini biasa di gelar di Alun-alun.  Ibarat gladiator di jaman romawi, harimau buruan dilepaskan dan dipertarungkan dengan ribuan orang.

Secara Filosofis Rampogan Macan diselenggarakan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan maupun para pejabat dari Belanda, sehingga secara tersirat kegiatan ini ditujukan untuk memperlihatkan bahwa kekuatan rakyat dapat mengalahkan kekuasaan para penjajah yang dilambangkan dalam bentuk Macan.

Dalam Bukunya Kartawibawa menggambarkan Ribuan pria yang memegang tombak mengitari alun-alun membentuk barikade. Dalam pertunjukan tersebut orang-orang beradu nyali memamerkan kehebatan dan keampuhan tombak atau senjata pusaka masing-masing. Di tengah, kandang-kandang yang kelewat sempit untuk harimau kemudian dibuka.

Harimau itu dipaksa untuk menghadapi tajamnya tombak-tombak masyarakat. Satu harimau versus ribuan pria bersenjatakan tombak.

Supaya harimau itu keluar dari kandangnya dan berlarian menerjang barikade tombak, maka massa di alun-alun bersorak.

Bila harimau masih diam saja, biasanya mercon besar dinyalakan atau ada orang yang memancing dengan senjata agar harimau itu mengamuk di alun-alun.

Harimau yang kebingungan mencoba menerjang barikade orang-orang yang memegang tombak. Bagaikan sapu lidi, tombak-tombak tajam yang diarahkan membuat tubuh dan kepala harimau terluka dan membuat harimau berlari kesisi barikade yang lain. Begitu seterusnya harimau yang kebingungan akan mati kehabisan darah atau diam ditengah menunggu ribuan tombak mengoyak badannya sampai mati.

Keberadaan Rampogan Macan secara langsung menyebabkan populasi harimau jawa punah perlahan-lahan. Setiap hari ada puluhan harimau yang diburu dengan bengis. Beberapa diawetkan lalu dijual pada saudagar.

Beberapa lagi dikuliti karena motif rambutnya yang sangat unik. Harimau yang masih kecil atau belum dewasa biasanya dipelihara dan digunakan untuk Rampogan Macan.

Di Blitar, tradisi ini mulai ditinggalkan pada akhir abad ke-19. Kala itu harimau jawa benar-benar punah dan tidak bisa diselamatkan keberadaan.

Kalau saja di masa lalu tidak ada tradisi ini atau kalau pun ada tidak dilakukan secara besar-besaran mungkin saat ini Harimau Jawa tetap ada hingga sekarang.