BALITAR.ID, Blitar – Larung sesaji tiap 1 Muharram (1 suro) sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi warga pesisir Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Tradisi ini diyakini sebagai upaya mensyukuri nikmat tuhan berupa rejeki, keselamatan serta hasil alam yang melimpah.

Prosesi ini selalu dinantikan ribuan pengunjung dari berbagai daerah-daerah. Dalam ritual budaya ini masyarakat Desa Tambakrejo menggelar kirab tumpeng dan sesaji. Kemudian, tumpeng dan sesaji diarak dari Kantor Desa Tambakrejo menuju pesisir pantai untuk didoakan.

Dalam prosesi ini dihaturkan ungkapan-ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun, serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Untuk mengawali prosesi kegiatan ini, biasanya terlebih dahulu dibacakan sejarah Desa Tambakrejo dan tujuan dari prosesi larung sesaji. Selanjutnya gunungan yang telah didoakan diarak menuju bibir pantai.

Larung sesaji di Pantai Tambakrejo ini merupakan agenda tahunan untuk memperingati masuknya bulan Suro penanggalan kalender Jawa. Sekaligus Tahun Baru Islam 1441 Hijriah yang jatuh pada bulan Muharram.

Kepala Desa Tambakrejo, Santoso dalam sambutannya mengungkapkan, rasa terima kasih  kepada Pemerintah Kabupaten Blitar atas perhatian dan kontribusinya pada kegiatan larung sesaji. Mengingat kegiatan ini merupakan tradisi turun temurun yang patut dijaga.

“Upacara adat ini berawal dari larung sesaji yang dilakukan oleh Wira Atmajaya salah satu prajurit dari Mataram yang notabene adalah anak buah Pangeran Diponegoro. Wira Atmaja melarikan diri ke wilayah Pantai Tambakrejo dan membabat alas menjadi sebuah desa yang bisa ditempati. Kemudian melakukan tasyakuran tiap 1 Suro atau yang saat ini lebih dikenal Larung Sesaji,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Bupati Blitar, Rijanto menyampaikan, setiap pergantian tahun baru Muharam atau dalam peringatan 1 Suro, Pemerintah Kabupaten Blitar mengajak seluruh masyarakat  untuk ikut serta meramaikan acara larung sesaji. Menurutnya, kegiatan ini sebagai bagian dari wujud syukur kepada Allah SWT, atas melimpahnya hasil laut yang diberikan kepada nelayan.

“Tentunya ini merupakan tradisi peninggalan para leluhur yang sangat baik. Disini Pemerintah Kabupaten Blitar hadir untuk mendampingi prosesi ini. Semua pantai di wilayah Blitar Selatan mulai dari pantai Molang, Pasur, Gayasan, Pangi, Tambakrejo, Pasetran Gondo Mayit, Jebring, Pudak, Serang, Peh Pulo, dan Jolosutro semua mengadakan Larung sesaji yang untuk pemerintah daerah dipusatkan di Tambakrejo,” ungkap Bupati.

Selanjutnya, Larung sesaji ditandai dengan pemukulan gong dan penyerahan selendang kepada juru kunci Pantai Tambakrejo. Kemudian hasil bumi serta kepala sapi dibawa ke dermaga dan kemudian dilarungkan sekitar 3 kilometer ke tengah laut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengatakan, Kegiatan Larung Sesaji pada tahun ini telah ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bersama Reog Bulkiyo yang dari Desa Kemloko.

“Pada tanggal 16 Agustus 2019 kemarin baru sidang dan hasilnya Larung Sesaji Pantai Tambakrejo ini bersama Reog Bulkiyo dari Desa Kemloko ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Harapannya bisa terus di lestarikan dan bisa menambah daya tarik wisata budaya di Blitar,” tukasnya.